Thursday, May 29, 2014

Ungkapan Rasa



Entahlah..
Rasa ini terlalu dahsyat hadir diantara dua insan ciptaan Tuhan,
Apa ini?
Mengapa begitu menyiksa batin?
Merindu diantara berjuta-juta manusia..
Kenapa ini?
Kenapa harus dia yang selalu hadir disetiap degup jantung?
Entah, rasanya ini tak biasa..
Seketika menatap cakrawala yang tinggi
Ku kepakkan sayapku..
Entah mengapa ada sesuatu yang menarik sayap ini untuk terus datang dan mendekat..
Dan itu ternyata kamu..
Sosok lelaki dengan wajah menenangkan dan yang selalu mampu membuatku nyaman..
Apa ini?
Aku tak bisa lagi jauh darimu, terasa ingin hidup disetiap helaan nafasmu,
Disetiap sentuhan lembut tanganmu pula ku rasakan nyaman dan indahnya dunia..
Terimakasih sayang, kau telah hadir disisiku..

Tuesday, May 13, 2014

WAR IS BEGIN : Burjo vs Anak Kos

Mungkin ketika melihat judul diatas  kalian akan tertawa atau mungkin ada yang akan kontra dengan judul diatas. Yah, jangan berlebihan kawan. Ini hanya sekedar curhatanku mengenai burjo didepan kosku yang sungguh amat menyebalkan bagi kami para penghuni kos Hijau.
Oh iya, kini aku telah berpindah kos dari yang semula kekampus bisa ditempuh dengan waktu kurang dari 5 menit. Sekarang bisa ditempuh dengan waktu paling cepat 15 menit jika jalan kaki. Melelahkan memang. Tetapi, dua makhluk astral, sebut saja Desa dan Yoka (nama sebenarnya) sahabat karibku di Yogya berhasil membujukku untuk ikut pindah dengan mereka. Mereka meng-iming-imingiku dengan burjo yang selalu buka 24jam, serta kos-kosan yang nyaman, luas dan bersih tentunya. Berbeda halnya dengan kosku yang dulu. Tidak perlu kujelaskan lagi kosku yang dulu penuh dengan penderitaan lahir dan batin (bahasenyee aje gile :D ).
Kira-kira sudah tiga bulan lamanya aku berada dikos ini. Disini, kamar kos sebanyak 12 pintu. Banyakkan ? Iyalah. Ibu kosku, selain mempunyai kos disini. Beliau dan suaminya juga mempunyai kos-kosan didaerah UIN Yogya. Yang untungnya, mereka tinggal disana sekeluarga. Jadi, kami disini akan bisa bebas berhura-hura sampai pagi menjelang (hahahaha). Yah, kosku memang mempunyai aturan jam malam hingga jam 22.00 WIB. Tapi tentu saja, yang namanya anak kos coy. Hal itu sangat mustahil untuk kami lakukan karena bagi kami, kehidupan kota Gudeg ini justru baru akan dimulai pada saat jam itu.
Dikos ini terkumpul berbagai karakter orang. Yah, bagi kalian yang pernah merasakan sebagai anak kos terutama para wanita tentu akan setuju dengan kata-kataku ini. Bayangkan saja, kamar kos sebanyak 12 pintu dan yang terisi 11 pintu. Tentu saja jika pagi kos ini akan sangat ramai. Terlebih dengan kehadiranku, Desa serta Yoka yang memang selalu heboh. Tak peduli itu pagi, siang, sore maupun malam. Tak peduli hujan dan petir bahkan mati lampu sekalipun. Kami memang selalu heboh, namun tentu saja hal ini yang akan kami rindukan kelak jika kami telah tua.
Okey, kembali ke judul tulisanku kali ini. Aku ingin menceritakan kisah peperangan kami antara penghuni kos dengan pedagang warung burjo didepan kos kami. Yah, kos kami memang berbentuk kotak. Dimana sebelah Barat terdapat 7 kamar kos yang salah satunya kosong, kemudian disebelah selatan terdapat warung burjo yang menyatu dengan kos kami. disebelah barat terdapat kantor yang entah sampai sekarang aku tidak mengerti itu kantor apa (menyedihkan memang). kemudian dibelakang kantor ada deretan kamarku yang semuanya berisi. Bangunan-bangunan itu semua mengelilingi halaman tengah yang semestinya bisa kami gunakan sebagai tempat untuk bermain volly atau olahraga lainnya. Namun, tentu saja kami selalu keduluan oleh kantor yang suka seenaknya memarkir motor dihalaman itu.
Selama beberapa bulan disini. Aku dan kedua sahabatku tercinta berhasil mengenalkan kepada dunia betapa hebatnya kami karena bisa dengan segera beradaptasi dengan orang-orang dikos ini. Sudah banyak hal yang kami lewatkan dikos ini. Suka duka memang sudah kami lewati sejak setengah tahun lalu perkenalan kami bertiga.
Kini, kami para penghuni kos hijau ini sedang sepakat untuk melakukan mogok makan diwarung burjo depan. Kalian tentu bertanya-tanya, apa salah pedagang burjo didepan kami ? Mereka kan hanya mencari nafkah, sama halnya dengan kami yang mencari ilmu disini. Namun, kalian tentu akan berubah pikiran begitu mengetahui betapa menyebalkannya dia. Pedagang burjo didepan kos berdagang membawa serta istri dan anaknya yang masih berumur 5 tahun. Aku yang aslinya memang sangat menyukai anak kecilpun kemudian akrab dengannya. Tetapi lama kelamaan. Entah mengapa sosok Aa' burjo ini membuat kami para penghuni kos merasa terintimidasi. Sedikit cerita awal yang mulai memercikkan api peperangan. Silahkan kawan-kawan sekalian simak :)
                                                                                         oOo
Hari sabtu itu, tepatnya tanggal 19-April-2014. Aku, Selma, Yoka dan Desa sepakat untuk berjalan-jalan ke Tugu pada malam harinya untuk menikmati malam minggu dikota Jogja yang indah ini. Tetapi sebelumnya memang aku dan Selma teman sekos dan sekampus memutuskan untuk keperpusda terlebih dahulu karena sebentar lagi kami akan presentasi untuk salah satu mata kuliah saat itu. Sorenya, Desa dan Yoka yang sudah berencana untuk Joging keliling komplek kos membujukku untuk ikut dengan mereka.
"Kiza, lari keliling komplek yuk? Lumayan buat bakar lemak!" Seru Yoka penuh dengan semangat sembari melakukan pemanasan didepan kamarku.
"Ogah ah, aku mau kepusda sama Selma. Udah, kalian joging dulu aja sana. Ntar kalau kalian jadi ke Tugu bbm aku ya? Biar kita ketemu disana aja." balasku.
Desa yang baru saja keluar dari kamarnya, sembari memasang sepatu menggodaku. "Yuk Rizka, ikut aja. Ntar kalau capek digendong Yoka." Kami bertiga tertawa. Sesaat kemudian Yoka dan Desa pergi meninggalkan kos kami untuk berlari keliling komplek.
Aku yang sebenarnya baru saja bangun tidur sore itu segera beranjak meninggalkan kamar dan mengetuk pintu kamar Selma.
"Sel, selmaa.. ayo kita kepusda. Udah sore nih." Terdengar jawaban lemah dari seorang Selma yang baru saja bangun tidur dari dalam kamarnya, "Iya Lale. Tunggu bentar,"
Pintu kamar Selmapun terbuka. Selma yang masih sempoyongan mengikutiku kekamarku. Tetapi, bisa ditebak apa yang kami lakukan. Yah, kami, dua makhluk yang baru saja terbangun ini malah asyik duduk dikursi depan kamarku. Kami mengobrol sejenak, kemudian memutuskan untuk berangkat keperpustakaan setelah magrib saja.
Waktupun berlalu, Adzan magrib telah tiba. Desa dan Yoka tak kunjung kembali. Muncul rasa khawatir dihatiku. Namun, aku berusaha menepis perasaan khawatir itu. Akupun bergegas mengambil wudhu dan solat Magrib. Usai solat magrib. Tiba-tiba terdengar suara pintu mobil yang ditutup dari depan gerbang. Suara langkah seseorang yang tengah berlari semakin kentara.
"Rizkaaa... Rizka... Desa pingsan. Desa di JIH." Teriak Yoka dari luar kamar yang membuatku kaget setengah mati.
"Apa?? Astagfirullah!!" Teriakku. Semua penghuni kos yang rupanya mendengar teriakanku segera berhamburan keluar dari kamar.
"Rizka, ambilin baju Desa. Sekarang kita ke JIH." Yoka berteriak. Tak ayal aku pun segera mengambil tas ranselku dan membuka pintu kamar Desa yang untungnya tidak terkunci. Ku buka lemarinya dan sembarang saja memasukkan baju kedalam ranselku. Aku benar-benar panik. Para penghuni kos yang lain berusaha menenangkan aku dan Yoka. Selma yang mendengar berita itu juga turut bersiap-siap untuk ikut ke JIH. beberapa menit bersiap kamipun akhirnya berangkat menuju JIH. Oh iya, JIH adalah Jogja International Hospital. Rumah sakit termahal dikota ini.
Sesampainya dirumah sakit. Aku akhirnya merasa sedikit lega melihat senyum Desa yang menandakan ia sudah lumayan sehat. Walaupun ketika kutanyai ia masih menjawab dengan nada lemah dan tentu saja sudah mampu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal dengan leluconnya yang pasti suatu saat akan sangat aku rindukan. Tiba-tiba disaat tengah tertawa seorang perawat datang dan segera menyodorkan sebuah surat registrasi kepada kami bertiga.
"Maaf ya mbak, ini mohon untuk segera dilunasi." Ujar perawat itu. Aku, yoka dan Selma disaat itu sedang mengalami krisis anak kos. Yah, kami bertiga sama-sama tidak mempunyai uang yang cukup dan sejumlah dengan biaya yang diminta rumah sakit ini. Kami akhirnya berpikir keras mengenai bagaimana caranya untuk melunasi biaya perawatan Desa yang ditotal mencapai setengah juta. Untungnya, orangtua Desa yang mengetahui Desa sakit rupanya sudah mengirimkan uang yang cukup untuk membayar biaya perawatan rumah sakit. Kami akhirnya berseru lega.
Pukul 21.15, kamipun pulang setelah disusul teman-teman lain yang mendengar kabar sakitnya Desa. Dan beruntungnya kami Desa tidak perlu rawat inap saat itu. Kamipun bergegas pulang. Perjalanan dari JIH menuju kos tidak memakan waktu lama. Kira-kira 10 menit. Kami akhirnya sampai dikos. Tetapi, apa yang terjadi membuat kami agak kesal. Yah, gerbang kos yang semestinya tidak digembok malah digembok. Tentu saja tersangka utama adalah Aa' Burjo. Dan Alhamdulillahnya, gembok itu masih bisa kami buka secara paksa. Jujur, saat itu aku sangat kesal. Kami sedang mengalami musibah dan tiba-tiba dengan santainya gerbang digembok. Jika memang mau mematuhi jam malam kos, kenapa tidak jam 22.00 saja ? saat itu, seingatku waktu masih menununjukkan pukul 9 malam lewat. Entah, apa maksud dari Aa' burjo ini. Aku hanya bisa memendam perasaan kesalku didalam hati.
                                                                                 oOo
Cukup sekian saja kali ini ceritaku. Mengenai awal peperangan anak kos dengan burjo. thanks ^_^

Monday, March 24, 2014

PASAR MISTERIUS



Malam itu, entah mengapa aku tak bisa tertidur dengan nyenyak. Mungkin saja karena aku tengah berkelahi dengan pacarku. Sebenarnya bukan berkelahi, tapi lebih tepatnya dia ‘ngambek’ kepadaku yang dianggapnya hanya sekedar setengah hati menjalani hubungan kami. Padahal, sebentar lagi kami akan menikah. Ditengah kebingungan kucoba untuk menghubunginya berkali-kali, tapi telponku bukannya diangkat malah ‘direject’ olehnya. Malam itu, tepat jam 12 malam, aku coba untuk memejamkan mata untuk tertidur. Ya, aku berpikir siapa tau esok pagi ketika mataku terbuka dia tersenyum hangat menyapaku dan menyadari betapa aku sangat menyayanginya.
Ketika aku berusaha untuk terpejam diatas kasurku yang begitu nyaman, entah kenapa mata ini sangat sulit terpejam. Aku sudah berusaha membolak balikkan badanku. Namun, yang terjadi aku justru mendengar beberapa suara yang aneh. Aku mengatainya aneh karena yang pertama kali kudengar yakni seperti suara anjing yang lebih mencerminkan suara seorang wanita tertawa. Entah itu hanya halusinasiku atau memang benar-benar terjadi. Aku terpaku. Bukannya menghilang suara ini malah ditambah oleh suara kaki kuda yang terdengar mendekati kamarku. Aku merasa penasaran dan membuka jendela. Namun, yang kulihat justru berbeda dengan yang kubayangkan. Aku melihat didepan rumahku begitu banyak orang berkumpul, hal ini bisa kulihat melalui jendelaku yang langsung menghadap kedepan rumah . aku yang penasaran mencoba untuk keluar rumah. Aku mudah saja keluar rumah karena sepertinya semua orang sudah tertidur, perlahan ku buka pintu rumahku. Aku keluar mengendap-endap hingga sampai ditempat keramaian yang sedari tadi sudah ku intai dari jendela kamar.
Aku berjalan perlahan. Tiba-tiba dari arah timur aku mendengar sebuah suara seperti sedang berdagang dan memanggil-manggilku.
“ Neng, sini neng. Neng butuh apa ? “ Tanya suara berat disebelah timur. Entah apa yang terjadi tiba-tiba aku merasa tengah berada disebuah pasar, padahal tadi aku berada didepan rumahku yang depannya merupakan jalan raya yang tidak ada sama sekali kegiatan pasar apalagi tengah malam begini. Terlebih yang membuatku heran, keramaian yang sedari tadi kuperhatikan melalui jendela seperti semakin menjauh, kini jarakku dengan tempat itu sekitar 100m padahal, tadi aku yakin bahwa keramaian itu tidak begitu jauh dari kamarku.
“ Neng, ayo neng, dibeli dagangan nenek.  Dangingnya masih segar-segar Neng. “ suara yang lain datang lagi dari arah sebelah barat. Setelah terpaku begitu lama, aku akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi nenek si penjual itu untuk melihat dagangan yang sedari tadi ditawarinya. Kulihat beberapa dagangannya yang terlihat seperti daging yang sudah membusuk dan begitu banyak belatung. Aku mual dan berusaha menjauh dari sana. Ketika berbalik aku baru menyadari dibelakangku sudah banyak orang yang mengantri untuk berbelanja di nenek itu.
“ Mbak, mas, jangan dibeli dagangan nenek itu, dagingnya udah busuk.” Ujarku sembari menahan mual dan meyakinkan pembeli dibelakangku. Anehnya mereka hanya terdiam. Tidak satupun dari mereka yang mengindahkan perkataanku. Mereka tetap saja membeli daging busuk itu. Aku tak habis pikir, apakah ini hanya mimpi ? aku mencubit tanganku dan yang kurasakan adalah sakit.
“ apa ini benar-benar terjadi ? “ pikirku.
Aku kemudian berusaha menjauh dari dagangan nenek tadi dan tetap focus terhadap keramaian yang sedari awal membuatku penasaran. Belum jauh melangkah dari tempat nenek tadi, aku mendengar ada suara yang memanggil-manggil namaku.
“ Rita ! hihihihi “ Ulang suara itu berkali-kali memanggilku. Ketika berbalik aku melihat Anda sahabatku yang telah lama meninggal. Aku benar-benar tidak percaya atas apa yang kulihat.
“ Rita, sini ! hihihi “ suara itu kini memanggilku lagi. Entah darimana datangnya keberanianku untuk menghampiri Anda.
“ Anda ? bukannya kamu sudah meninggal enam tahun lalu ? “ tanyaku terbata-bata.
“ Aku selalu ada disini kok, Ta. Didekat kamu. Hihihi “
“ Kamu jangan kesana ya Ta ? hihihi “ ujar Anda dengan tertawanya, aku merasa ia hanya bercanda karena sedari tadi ia hanya ber ‘hihi’ ria setiap mengucapkan sesuatu.
“ kenapa Nda ? “ balasku.
“ Aku ‘gak berani kasitau kamu Ta, nanti ada yang marah. Yang jelas aku ‘gak mau kamu kesana. Mendingan kamu balik aja ya, Ta ? hihihi “ kali ini sepertinya dapat kutangkap kata-kata Anda memang serius walau tetap dibelakangnya ia tidak lupa ber’hihi’ ria. Namun, rasa penasaranku semakin menjadi dan mengalahkan pembenaranku atas keseriusan peringatan Anda. Aku terus saja melangkah meninggalkan Anda tanpa menghiraukan panggilannya.
“ Rita, jangan.. ! jangan Rita, disana bahaya. “ Teriaknya tak kuhiraukan.
“ Baiklah, kalau kamu masih ‘gak mau dengar kata-kataku. Jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi. “ Ujarnya. Tampaknya ia marah karena aku tak mendengar peringatannya karena kudengar suaranya semakin berat dan ketika berbalik dia sudah tidak ada ditempatnya. Aku terus melangkah mendekati keramaian.
Akhirnya, aku sampai ditengah keramaian itu. Aku melihat begitu banyak orang yang tengah mengerubungi sesuatu, aku berusaha menyela orang-orang disekitarku yang tampaknya semakin banyak. aku terus menyela hingga dapat melihat apa yang ada ditengah-tengah kerumunan tersebut. Yang kulihat sungguh mengerikan. Aku melihat seorang manusia yang tengah ditarik-tarik dagingnya untuk dimakan orang-orang dihadapanku dan yang baru aku sadari ternyata mulut orang-orang disekitarku terlihat seperti sedang mengunyah sesuatu seperti daging segar yang masih berlumuran darah. Dan mata mereka seperti memancarkan ketidak sukaan akan adanya aku disekitar mereka. aku terpaku, tanpa kusadari mereka terus memperhatikan aku dan berusaha mendekati dan melukaiku. Ada yang mencakarku dan adapula yang berusaha menarik rambutku.
Tiba-tiba dari arah atas aku mendengar seseorang kembali memanggilku.
“ Rita !! “ panggil suara itu, yang ternyata itu adalah Anda, mendiang sahabatku. Ia menarikku dan entah bagaimana ia seperti membawaku terbang menjauhi orang-orang yang tengah berusaha melukaiku.
keesokan harinya ketika aku membuka mata aku ternyata tengah berada di kamarku. ternyata itu semua hanya mimpi, karena jelas selama dibawa Anda aku tidak merasa pingsan.
“ aaww.. sakit ! “ pekikku ketika kusadari ternyata tangan dan kakiku luka-luka seperti bekas cakaran. Kepalaku juga masih pusing.
“ Ada apa ini ? “ pikirku.
Ditengah-tengah kebingungan mama datang kekamarku dan menceritakan bahwa tenyata tadi pagi aku ditemukan oleh beberapa orang yang ingin nyekar ke makam kerabatnya. Dan yang membuatku kaget, aku ditemukan diatas pusara Anda mendiang sahabatku. Ketika orang-orang membawaku mereka menceritakan kepada Mama bahwa aku ditemukan dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri. Aku terdiam.
“ Berarti yang semalam bukan mimpi. “ gumamku.
“ ada apa Ta ? “ ujar mamaku heran.
“ ‘gak kok Ma, ‘gak ada apa-apa. Ma, Rita boleh istirahat dulu kan ? Badan Rita masih sakit. “ pintaku pada Mama.
“ Ya udah, tapi janji nanti kamu harus cerita ke mama apa yang udah terjadi sampai kamu kaya’ gini dan kenapa kamu bisa ada di makam Anda ! “ pinta mama, yang kujawab dengan anggukan pasti.
Setelah kejadian itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak terpancing keluar lagi ditengah malam, aku juga akan belajar mendengar nasehat dari orang lain karena aku tau itu pasti untuk kebaikanku sendiri. Namun, ada satu hal yang membuatku bingung. Apakah kejadian semalam hanya mimpi dan aku berjalan dalam mimpiku ke makam Anda ? tapi, luka-luka dan pusing ini ? entahlah. Kepalaku masih sangat pusing untuk memikirkan ini semua, yang jelas aku tau bahwa tanpa ku sadari selama ini Anda selalu ada didekatku dan menjagaku.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerita ini sebelumnya sudah pernah k1za posting di http://mistik.reunion.web.id/4832/pasar-misterius.htm
Tolong ya, klo ada yang mau copast jangan lupa sertakan sumber, bisa blog ini atau web diatas ^_^

Friday, January 17, 2014

Gadis



                                                                               
Malam itu, sebuah perjalanan yang begitu melelahkan bagi Steven. Seorang pengusaha muda yang tentu saja mampu membuat mata setiap wanita tertuju padanya. Tiba-tiba diperjalanan, ia melihat seorang gadis yang tengah seorang diri menunggu dihalte bis yang ia lewati. Ia yang gairah mudanya masih sangat bergelora, tentu saja langsung terpikat saat melihat wajah wanita cantik itu.
“ Nona, butuh tumpangan ? “ Tawar Steven. Gadis itu hanya mengangguk diam dan tersenyum.
“ Mari, silahkan.” Dengan sopan ia berujar kepada gadis itu, sembari membuka pintu dan mempersilahkannya untuk duduk disamping kursi pengemudi, disampingnya. Lagi-lagi, gadis itu hanya diam dan tersenyum. Menambah aura misterius dari kecantikan gadis ini. Tentu saja hal ini semakin membuat jantungnya berdegup kencang.
“ Nona, mau kemana ya ? “ Ujar Steven berusaha menghangatkan suasana.
“ Terus aja mas, nanti saya kasitau. “ Ujar gadis itu dingin. Akhirnya, merekapun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai dirumah sang gadis.
“ Wow, rumah anda bagus sekali nona. Boleh saya mampir ? “
“ Tentu saja. “ Senyum gadis itu kini mengembang. Ia kemudian mempersilahkan Steven masuk kedalam rumahnya.
Didalam rumah, gadis itu mempersilahkan Steven untuk duduk disebuah kursi bergaya klasik. Iseng-iseng Steven melihat kedalam rumah gadis itu.
“ Wah, nona. Sepertinya anda sangat menyukai gaya klasik ya ? Indah sekali. “ Ujar Steven.
“ Rupanya anda adalah orang yang sama denganku Tuan. Aku pikir anda akan mengatakan ini kuno. Sudah banyak sekali laki-laki yang mengatakan itu padaku.” Raut muka gadis itu tampak sedih.
“ Hei, kau tau ? mereka sama sekali tak mengerti arti sebuah seni. “ Hibur Steven.
“ Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin mengingat hal menyedihkan itu.” Gadis itu kembali tersenyum.
“ Ngomong-ngomong, aku belum tau namamu nona. Aku Steven. “ Steven mengulurkan tangan.
“ Aku Marisa. “ Gadis itu kembali tersenyum. Hayalan Steven seakan melambung melihat senyum manis gadis itu.
“ Orangtuamu dimana ? apa kau tinggal sendiri disini ? “ Steven semakin penasaran.
“ Orangtuaku sudah lama pergi meninggalkanku, yah.. itu semua karena aku.” Gadis itu kembali tampak bersedih.
“ Oh, maaf. Aku tidak tau. Sudahlah, jangan kau pikirkan orangtuamu Marisa. Jika kau butuh sesuatu, katakana saja padaku. “ Steven memulai aksinya saat merayu gadis-gadis lain.
“ Terimakasih tuan Steven. Aku sangat beruntung mengenal anda.”
“ Never mind Dear.” Steven mengecup punggung tangan gadis itu. Tampak raut wajah gadis itu merah merona. Perbincangan diantara merekapun mulai lancar, hingga akhirnya Steven pamit untuk pulang.
“ Tuan Steven, maukah anda kembali lagi kesini esok malam ? Aku tau, aku mungkin sangat lancang. Tapi, aku hanya ingin mengajak anda untuk makan malam..” Suara gadis itu menggantung.
“ Tentu saja Nona manis.” Ia tersenyum sambil melambai kearah gadis itu.
Esoknya, Sesuai jam yang sudah ditentukan. Steven kembali datang kerumah gadis itu. Ia disambut hangat oleh sang gadis. Gadis itu tampaknya menggunakan gaun terbaiknya untuk malam ini.
“ Terimakasih kau sudah datang memenuhi undanganku tuan Steven.”
“ Untukmu, aku pasti akan menyisihkan waktu walau aku sedang sibuk, Dear.”
“ Sudahlah, mari kita berbincang didalam. Aku sudah mempersiapkan semua peralatan yang kita butuhkan untuk makan malam.” Gadis itu tersenyum.
“ Rupanya kau akan menunjukkan keahlianmu memasak.” Steven tampak tertarik.
“ Tentu saja.” Gadis itu kembali tersenyum dingin. Steven dan gadis itu kemudian masuk kedalam rumah, tepatnya menuju ruang makan. Tapi, betapa terkejutnya Steven melihat apa yang terpampang dihadapannya. Gergaji, Pisau daging yang masih menempel darah yang nampaknya sudah menggumpal.
“ Marisa, untuk apa ini semua ?” Steven agak ketakutan.
“ Untuk makan malam sayangku. Bukankah, kau ingin membahagiakanku ? Aku tentu sangat bahagia jika dapat mengulitimu hidup-hidup. Hahahaha “ Wajah gadis itu berubah menyeramkan.
“ Kau… makhluk macam apa kau ini ? “ Kaki Steven seakan beku. Ia tak dapat bergerak.
“ Tentu saja, aku adalah gadis manis yang akan kau lihat untuk terakhir kalinya sayang.” Gadis itu mengikat Steven pada kursi. Ia mengambil gergaji serta pisau yang telah disediakan diatas meja. Ia kemudian memulai penderitaan itu.
“ Sayangku, kini kau tentu akan bertemu dengan kedua orangtuaku. Yah, aku yang telah mengirim mereka kesurga.” Gadis itu mendekatkan pisau daging yang masih berlumuran darah kekulit wajah Steven. Dengan santai ia mengiris-iris kulit Steven, seolah-olah binatang yang hendak dibakar. Darah mulai mengucur sedikit demi sedikit. Gadis itu kemudian menjilat sisa darah yang terdapat dipisau daging itu. Steven yang sudah lemas hanya bisa menahan mual melihat kejadian itu. Si gadis kemudian mengambil gergaji dari meja dan menyentuhkan gergaji itu pada pergelangan tangan Steven.
“ Aku mohon Marisa. Jangan lakukan itu.” Steven memohon-mohon kepada gadis itu. Ia kemudian memotongnya. Darah mengucur dari pergelangan tangan Steven. Gadis itu hanya tersenyum kecil sembari mencium pergelangan tangan Steven yang telah tak berada pada posisinya itu. Steven hanya bisa berteriak kesakitan.
“ Apakah kau merasakannya sayang ? Aku sangat bahagia. Hahaha” Steven tampak pingsan. Ketika siuman dari pingsannya. Steven tampak sangat pucat dan menahan kesakitannya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhh!!!! Tolong aku!!” Teriak Steven sekuat mungkin.
“ Sudahlah sayang, kau hanya akan menghabiskan tenagamu. Tidak aka nada yang mendengarmu berteriak. Karena kau tau ? Rumah ini sudah kulengkapi dengan peredam suara. Hahaha”
Steven hanya bisa terdiam. Ia sudah kehabisan tenaga. Tampaknya, kini ia dalam keadaan sekarat, setengah kesadarannya sudah hilang. Hingga akhirnya dunia menjadi gelap.
                                                                                oOo
Didalam sebuah video, seorang gadis tengah menatap kamera yang tampaknya tengah merekamnya. Ia terlihat mencium sebuah pisau dengan tatapan dinginnya. Namun, siapa saja pasti tau walaupun tatapan matanya dingin. Ia Nampak tersenyum bahagia sambil mengecup pisau berlumuran darah itu.
“ Hmm.. aku tentu sangat menyukai bau ini. “ Ujarnya.
“ Dan tentu, kau juga suka dengan bau ini. Karena ini sama seperti bau kekasihku yang sangat manis. “ Gadis itu tampak menunduk sebentar, kemudian melihat kembali ke kamera.
“ Kau tau ? aku sangat menyukai bau ini. Bau orang yang sangat kucinta.” Gadis itu kemudian menjilat pisau penuh darah itu dengan wajah seolah-olah sangat menikmati apa yang tengah dilakukannya.
“ Aku sungguh sangat bahagia jika ada seseorang yang rela mati demi cintanya kepadaku. Hahahaha “ Kamera kemudian mati.

Contoh CV




CURICULUM VITAE
PERSONAL INFORMATION
Lale Rizka Quratul Anjani
Jln Soropadan No. 48, Rt 02, Rw 36, CC XII
Gejayan Condong Catur Sleman, Yogyakarta
Phone : 087864846605

EDUCATION QUALIFICATION
Mercubuana University of Yogyakarta ( 2013-2017 )
·        Communication of education
SMAN 1 Jonggat ( 2010-2013 )
·        IPA
SMPN 2 Kuripan ( 2007-2010 )
SDN 2 Montong Are ( 2005-2007 )
SDN 1 Kediri ( 2001-2005 )

EXPERIENCE
·        MC ( 2013 )
PT. INSAN BANGUN BANGSA
Jln Gajah Mada-Jempong
Pertokoan Bumi Kodya Asri No. 9
Mataram, NTB.
Advertising & Even Organizer
·        Presenter ( 2012-2013 )
PT LINTAS ANTARIKSA ( TV 9 )
Jln Sandubaya No. 99x
Gerimax Indah, Narmada
Lombok, NTB.
Media/News/Publishing

SKILLS
·        MC / Presenter
·        Jurnalist

REFERENCES
·        Akhmad Herkiandi ( Ex Producer Of TV9 )


Bachelor of Broadcast GPA 3,73 with major Communication Education Mercu Buana of Yogyakarta from 2013 to 2017