Friday, January 17, 2014

Gadis



                                                                               
Malam itu, sebuah perjalanan yang begitu melelahkan bagi Steven. Seorang pengusaha muda yang tentu saja mampu membuat mata setiap wanita tertuju padanya. Tiba-tiba diperjalanan, ia melihat seorang gadis yang tengah seorang diri menunggu dihalte bis yang ia lewati. Ia yang gairah mudanya masih sangat bergelora, tentu saja langsung terpikat saat melihat wajah wanita cantik itu.
“ Nona, butuh tumpangan ? “ Tawar Steven. Gadis itu hanya mengangguk diam dan tersenyum.
“ Mari, silahkan.” Dengan sopan ia berujar kepada gadis itu, sembari membuka pintu dan mempersilahkannya untuk duduk disamping kursi pengemudi, disampingnya. Lagi-lagi, gadis itu hanya diam dan tersenyum. Menambah aura misterius dari kecantikan gadis ini. Tentu saja hal ini semakin membuat jantungnya berdegup kencang.
“ Nona, mau kemana ya ? “ Ujar Steven berusaha menghangatkan suasana.
“ Terus aja mas, nanti saya kasitau. “ Ujar gadis itu dingin. Akhirnya, merekapun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai dirumah sang gadis.
“ Wow, rumah anda bagus sekali nona. Boleh saya mampir ? “
“ Tentu saja. “ Senyum gadis itu kini mengembang. Ia kemudian mempersilahkan Steven masuk kedalam rumahnya.
Didalam rumah, gadis itu mempersilahkan Steven untuk duduk disebuah kursi bergaya klasik. Iseng-iseng Steven melihat kedalam rumah gadis itu.
“ Wah, nona. Sepertinya anda sangat menyukai gaya klasik ya ? Indah sekali. “ Ujar Steven.
“ Rupanya anda adalah orang yang sama denganku Tuan. Aku pikir anda akan mengatakan ini kuno. Sudah banyak sekali laki-laki yang mengatakan itu padaku.” Raut muka gadis itu tampak sedih.
“ Hei, kau tau ? mereka sama sekali tak mengerti arti sebuah seni. “ Hibur Steven.
“ Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin mengingat hal menyedihkan itu.” Gadis itu kembali tersenyum.
“ Ngomong-ngomong, aku belum tau namamu nona. Aku Steven. “ Steven mengulurkan tangan.
“ Aku Marisa. “ Gadis itu kembali tersenyum. Hayalan Steven seakan melambung melihat senyum manis gadis itu.
“ Orangtuamu dimana ? apa kau tinggal sendiri disini ? “ Steven semakin penasaran.
“ Orangtuaku sudah lama pergi meninggalkanku, yah.. itu semua karena aku.” Gadis itu kembali tampak bersedih.
“ Oh, maaf. Aku tidak tau. Sudahlah, jangan kau pikirkan orangtuamu Marisa. Jika kau butuh sesuatu, katakana saja padaku. “ Steven memulai aksinya saat merayu gadis-gadis lain.
“ Terimakasih tuan Steven. Aku sangat beruntung mengenal anda.”
Never mind Dear.” Steven mengecup punggung tangan gadis itu. Tampak raut wajah gadis itu merah merona. Perbincangan diantara merekapun mulai lancar, hingga akhirnya Steven pamit untuk pulang.
“ Tuan Steven, maukah anda kembali lagi kesini esok malam ? Aku tau, aku mungkin sangat lancang. Tapi, aku hanya ingin mengajak anda untuk makan malam..” Suara gadis itu menggantung.
“ Tentu saja Nona manis.” Ia tersenyum sambil melambai kearah gadis itu.
Esoknya, Sesuai jam yang sudah ditentukan. Steven kembali datang kerumah gadis itu. Ia disambut hangat oleh sang gadis. Gadis itu tampaknya menggunakan gaun terbaiknya untuk malam ini.
“ Terimakasih kau sudah datang memenuhi undanganku tuan Steven.”
“ Untukmu, aku pasti akan menyisihkan waktu walau aku sedang sibuk, Dear.”
“ Sudahlah, mari kita berbincang didalam. Aku sudah mempersiapkan semua peralatan yang kita butuhkan untuk makan malam.” Gadis itu tersenyum.
“ Rupanya kau akan menunjukkan keahlianmu memasak.” Steven tampak tertarik.
“ Tentu saja.” Gadis itu kembali tersenyum dingin. Steven dan gadis itu kemudian masuk kedalam rumah, tepatnya menuju ruang makan. Tapi, betapa terkejutnya Steven melihat apa yang terpampang dihadapannya. Gergaji, Pisau daging yang masih menempel darah yang nampaknya sudah menggumpal.
“ Marisa, untuk apa ini semua ?” Steven agak ketakutan.
“ Untuk makan malam sayangku. Bukankah, kau ingin membahagiakanku ? Aku tentu sangat bahagia jika dapat mengulitimu hidup-hidup. Hahahaha “ Wajah gadis itu berubah menyeramkan.
“ Kau… makhluk macam apa kau ini ? “ Kaki Steven seakan beku. Ia tak dapat bergerak.
“ Tentu saja, aku adalah gadis manis yang akan kau lihat untuk terakhir kalinya sayang.” Gadis itu mengikat Steven pada kursi. Ia mengambil gergaji serta pisau yang telah disediakan diatas meja. Ia kemudian memulai penderitaan itu.
“ Sayangku, kini kau tentu akan bertemu dengan kedua orangtuaku. Yah, aku yang telah mengirim mereka kesurga.” Gadis itu mendekatkan pisau daging yang masih berlumuran darah kekulit wajah Steven. Dengan santai ia mengiris-iris kulit Steven, seolah-olah binatang yang hendak dibakar. Darah mulai mengucur sedikit demi sedikit. Gadis itu kemudian menjilat sisa darah yang terdapat dipisau daging itu. Steven yang sudah lemas hanya bisa menahan mual melihat kejadian itu. Si gadis kemudian mengambil gergaji dari meja dan menyentuhkan gergaji itu pada pergelangan tangan Steven.
“ Aku mohon Marisa. Jangan lakukan itu.” Steven memohon-mohon kepada gadis itu. Ia kemudian memotongnya. Darah mengucur dari pergelangan tangan Steven. Gadis itu hanya tersenyum kecil sembari mencium pergelangan tangan Steven yang telah tak berada pada posisinya itu. Steven hanya bisa berteriak kesakitan.
“ Apakah kau merasakannya sayang ? Aku sangat bahagia. Hahaha” Steven tampak pingsan. Ketika siuman dari pingsannya. Steven tampak sangat pucat dan menahan kesakitannya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhh!!!! Tolong aku!!” Teriak Steven sekuat mungkin.
“ Sudahlah sayang, kau hanya akan menghabiskan tenagamu. Tidak aka nada yang mendengarmu berteriak. Karena kau tau ? Rumah ini sudah kulengkapi dengan peredam suara. Hahaha”
Steven hanya bisa terdiam. Ia sudah kehabisan tenaga. Tampaknya, kini ia dalam keadaan sekarat, setengah kesadarannya sudah hilang. Hingga akhirnya dunia menjadi gelap.
                                                                                oOo
Didalam sebuah video, seorang gadis tengah menatap kamera yang tampaknya tengah merekamnya. Ia terlihat mencium sebuah pisau dengan tatapan dinginnya. Namun, siapa saja pasti tau walaupun tatapan matanya dingin. Ia Nampak tersenyum bahagia sambil mengecup pisau berlumuran darah itu.
“ Hmm.. aku tentu sangat menyukai bau ini. “ Ujarnya.
“ Dan tentu, kau juga suka dengan bau ini. Karena ini sama seperti bau kekasihku yang sangat manis. “ Gadis itu tampak menunduk sebentar, kemudian melihat kembali ke kamera.
“ Kau tau ? aku sangat menyukai bau ini. Bau orang yang sangat kucinta.” Gadis itu kemudian menjilat pisau penuh darah itu dengan wajah seolah-olah sangat menikmati apa yang tengah dilakukannya.
“ Aku sungguh sangat bahagia jika ada seseorang yang rela mati demi cintanya kepadaku. Hahahaha “ Kamera kemudian mati.

No comments:

Post a Comment