Monday, March 24, 2014

PASAR MISTERIUS



Malam itu, entah mengapa aku tak bisa tertidur dengan nyenyak. Mungkin saja karena aku tengah berkelahi dengan pacarku. Sebenarnya bukan berkelahi, tapi lebih tepatnya dia ‘ngambek’ kepadaku yang dianggapnya hanya sekedar setengah hati menjalani hubungan kami. Padahal, sebentar lagi kami akan menikah. Ditengah kebingungan kucoba untuk menghubunginya berkali-kali, tapi telponku bukannya diangkat malah ‘direject’ olehnya. Malam itu, tepat jam 12 malam, aku coba untuk memejamkan mata untuk tertidur. Ya, aku berpikir siapa tau esok pagi ketika mataku terbuka dia tersenyum hangat menyapaku dan menyadari betapa aku sangat menyayanginya.
Ketika aku berusaha untuk terpejam diatas kasurku yang begitu nyaman, entah kenapa mata ini sangat sulit terpejam. Aku sudah berusaha membolak balikkan badanku. Namun, yang terjadi aku justru mendengar beberapa suara yang aneh. Aku mengatainya aneh karena yang pertama kali kudengar yakni seperti suara anjing yang lebih mencerminkan suara seorang wanita tertawa. Entah itu hanya halusinasiku atau memang benar-benar terjadi. Aku terpaku. Bukannya menghilang suara ini malah ditambah oleh suara kaki kuda yang terdengar mendekati kamarku. Aku merasa penasaran dan membuka jendela. Namun, yang kulihat justru berbeda dengan yang kubayangkan. Aku melihat didepan rumahku begitu banyak orang berkumpul, hal ini bisa kulihat melalui jendelaku yang langsung menghadap kedepan rumah . aku yang penasaran mencoba untuk keluar rumah. Aku mudah saja keluar rumah karena sepertinya semua orang sudah tertidur, perlahan ku buka pintu rumahku. Aku keluar mengendap-endap hingga sampai ditempat keramaian yang sedari tadi sudah ku intai dari jendela kamar.
Aku berjalan perlahan. Tiba-tiba dari arah timur aku mendengar sebuah suara seperti sedang berdagang dan memanggil-manggilku.
“ Neng, sini neng. Neng butuh apa ? “ Tanya suara berat disebelah timur. Entah apa yang terjadi tiba-tiba aku merasa tengah berada disebuah pasar, padahal tadi aku berada didepan rumahku yang depannya merupakan jalan raya yang tidak ada sama sekali kegiatan pasar apalagi tengah malam begini. Terlebih yang membuatku heran, keramaian yang sedari tadi kuperhatikan melalui jendela seperti semakin menjauh, kini jarakku dengan tempat itu sekitar 100m padahal, tadi aku yakin bahwa keramaian itu tidak begitu jauh dari kamarku.
“ Neng, ayo neng, dibeli dagangan nenek.  Dangingnya masih segar-segar Neng. “ suara yang lain datang lagi dari arah sebelah barat. Setelah terpaku begitu lama, aku akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi nenek si penjual itu untuk melihat dagangan yang sedari tadi ditawarinya. Kulihat beberapa dagangannya yang terlihat seperti daging yang sudah membusuk dan begitu banyak belatung. Aku mual dan berusaha menjauh dari sana. Ketika berbalik aku baru menyadari dibelakangku sudah banyak orang yang mengantri untuk berbelanja di nenek itu.
“ Mbak, mas, jangan dibeli dagangan nenek itu, dagingnya udah busuk.” Ujarku sembari menahan mual dan meyakinkan pembeli dibelakangku. Anehnya mereka hanya terdiam. Tidak satupun dari mereka yang mengindahkan perkataanku. Mereka tetap saja membeli daging busuk itu. Aku tak habis pikir, apakah ini hanya mimpi ? aku mencubit tanganku dan yang kurasakan adalah sakit.
“ apa ini benar-benar terjadi ? “ pikirku.
Aku kemudian berusaha menjauh dari dagangan nenek tadi dan tetap focus terhadap keramaian yang sedari awal membuatku penasaran. Belum jauh melangkah dari tempat nenek tadi, aku mendengar ada suara yang memanggil-manggil namaku.
“ Rita ! hihihihi “ Ulang suara itu berkali-kali memanggilku. Ketika berbalik aku melihat Anda sahabatku yang telah lama meninggal. Aku benar-benar tidak percaya atas apa yang kulihat.
“ Rita, sini ! hihihi “ suara itu kini memanggilku lagi. Entah darimana datangnya keberanianku untuk menghampiri Anda.
“ Anda ? bukannya kamu sudah meninggal enam tahun lalu ? “ tanyaku terbata-bata.
“ Aku selalu ada disini kok, Ta. Didekat kamu. Hihihi “
“ Kamu jangan kesana ya Ta ? hihihi “ ujar Anda dengan tertawanya, aku merasa ia hanya bercanda karena sedari tadi ia hanya ber ‘hihi’ ria setiap mengucapkan sesuatu.
“ kenapa Nda ? “ balasku.
“ Aku ‘gak berani kasitau kamu Ta, nanti ada yang marah. Yang jelas aku ‘gak mau kamu kesana. Mendingan kamu balik aja ya, Ta ? hihihi “ kali ini sepertinya dapat kutangkap kata-kata Anda memang serius walau tetap dibelakangnya ia tidak lupa ber’hihi’ ria. Namun, rasa penasaranku semakin menjadi dan mengalahkan pembenaranku atas keseriusan peringatan Anda. Aku terus saja melangkah meninggalkan Anda tanpa menghiraukan panggilannya.
“ Rita, jangan.. ! jangan Rita, disana bahaya. “ Teriaknya tak kuhiraukan.
“ Baiklah, kalau kamu masih ‘gak mau dengar kata-kataku. Jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi. “ Ujarnya. Tampaknya ia marah karena aku tak mendengar peringatannya karena kudengar suaranya semakin berat dan ketika berbalik dia sudah tidak ada ditempatnya. Aku terus melangkah mendekati keramaian.
Akhirnya, aku sampai ditengah keramaian itu. Aku melihat begitu banyak orang yang tengah mengerubungi sesuatu, aku berusaha menyela orang-orang disekitarku yang tampaknya semakin banyak. aku terus menyela hingga dapat melihat apa yang ada ditengah-tengah kerumunan tersebut. Yang kulihat sungguh mengerikan. Aku melihat seorang manusia yang tengah ditarik-tarik dagingnya untuk dimakan orang-orang dihadapanku dan yang baru aku sadari ternyata mulut orang-orang disekitarku terlihat seperti sedang mengunyah sesuatu seperti daging segar yang masih berlumuran darah. Dan mata mereka seperti memancarkan ketidak sukaan akan adanya aku disekitar mereka. aku terpaku, tanpa kusadari mereka terus memperhatikan aku dan berusaha mendekati dan melukaiku. Ada yang mencakarku dan adapula yang berusaha menarik rambutku.
Tiba-tiba dari arah atas aku mendengar seseorang kembali memanggilku.
“ Rita !! “ panggil suara itu, yang ternyata itu adalah Anda, mendiang sahabatku. Ia menarikku dan entah bagaimana ia seperti membawaku terbang menjauhi orang-orang yang tengah berusaha melukaiku.
keesokan harinya ketika aku membuka mata aku ternyata tengah berada di kamarku. ternyata itu semua hanya mimpi, karena jelas selama dibawa Anda aku tidak merasa pingsan.
“ aaww.. sakit ! “ pekikku ketika kusadari ternyata tangan dan kakiku luka-luka seperti bekas cakaran. Kepalaku juga masih pusing.
“ Ada apa ini ? “ pikirku.
Ditengah-tengah kebingungan mama datang kekamarku dan menceritakan bahwa tenyata tadi pagi aku ditemukan oleh beberapa orang yang ingin nyekar ke makam kerabatnya. Dan yang membuatku kaget, aku ditemukan diatas pusara Anda mendiang sahabatku. Ketika orang-orang membawaku mereka menceritakan kepada Mama bahwa aku ditemukan dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri. Aku terdiam.
“ Berarti yang semalam bukan mimpi. “ gumamku.
“ ada apa Ta ? “ ujar mamaku heran.
“ ‘gak kok Ma, ‘gak ada apa-apa. Ma, Rita boleh istirahat dulu kan ? Badan Rita masih sakit. “ pintaku pada Mama.
“ Ya udah, tapi janji nanti kamu harus cerita ke mama apa yang udah terjadi sampai kamu kaya’ gini dan kenapa kamu bisa ada di makam Anda ! “ pinta mama, yang kujawab dengan anggukan pasti.
Setelah kejadian itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak terpancing keluar lagi ditengah malam, aku juga akan belajar mendengar nasehat dari orang lain karena aku tau itu pasti untuk kebaikanku sendiri. Namun, ada satu hal yang membuatku bingung. Apakah kejadian semalam hanya mimpi dan aku berjalan dalam mimpiku ke makam Anda ? tapi, luka-luka dan pusing ini ? entahlah. Kepalaku masih sangat pusing untuk memikirkan ini semua, yang jelas aku tau bahwa tanpa ku sadari selama ini Anda selalu ada didekatku dan menjagaku.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerita ini sebelumnya sudah pernah k1za posting di http://mistik.reunion.web.id/4832/pasar-misterius.htm
Tolong ya, klo ada yang mau copast jangan lupa sertakan sumber, bisa blog ini atau web diatas ^_^

Friday, January 17, 2014

Gadis



                                                                               
Malam itu, sebuah perjalanan yang begitu melelahkan bagi Steven. Seorang pengusaha muda yang tentu saja mampu membuat mata setiap wanita tertuju padanya. Tiba-tiba diperjalanan, ia melihat seorang gadis yang tengah seorang diri menunggu dihalte bis yang ia lewati. Ia yang gairah mudanya masih sangat bergelora, tentu saja langsung terpikat saat melihat wajah wanita cantik itu.
“ Nona, butuh tumpangan ? “ Tawar Steven. Gadis itu hanya mengangguk diam dan tersenyum.
“ Mari, silahkan.” Dengan sopan ia berujar kepada gadis itu, sembari membuka pintu dan mempersilahkannya untuk duduk disamping kursi pengemudi, disampingnya. Lagi-lagi, gadis itu hanya diam dan tersenyum. Menambah aura misterius dari kecantikan gadis ini. Tentu saja hal ini semakin membuat jantungnya berdegup kencang.
“ Nona, mau kemana ya ? “ Ujar Steven berusaha menghangatkan suasana.
“ Terus aja mas, nanti saya kasitau. “ Ujar gadis itu dingin. Akhirnya, merekapun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai dirumah sang gadis.
“ Wow, rumah anda bagus sekali nona. Boleh saya mampir ? “
“ Tentu saja. “ Senyum gadis itu kini mengembang. Ia kemudian mempersilahkan Steven masuk kedalam rumahnya.
Didalam rumah, gadis itu mempersilahkan Steven untuk duduk disebuah kursi bergaya klasik. Iseng-iseng Steven melihat kedalam rumah gadis itu.
“ Wah, nona. Sepertinya anda sangat menyukai gaya klasik ya ? Indah sekali. “ Ujar Steven.
“ Rupanya anda adalah orang yang sama denganku Tuan. Aku pikir anda akan mengatakan ini kuno. Sudah banyak sekali laki-laki yang mengatakan itu padaku.” Raut muka gadis itu tampak sedih.
“ Hei, kau tau ? mereka sama sekali tak mengerti arti sebuah seni. “ Hibur Steven.
“ Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin mengingat hal menyedihkan itu.” Gadis itu kembali tersenyum.
“ Ngomong-ngomong, aku belum tau namamu nona. Aku Steven. “ Steven mengulurkan tangan.
“ Aku Marisa. “ Gadis itu kembali tersenyum. Hayalan Steven seakan melambung melihat senyum manis gadis itu.
“ Orangtuamu dimana ? apa kau tinggal sendiri disini ? “ Steven semakin penasaran.
“ Orangtuaku sudah lama pergi meninggalkanku, yah.. itu semua karena aku.” Gadis itu kembali tampak bersedih.
“ Oh, maaf. Aku tidak tau. Sudahlah, jangan kau pikirkan orangtuamu Marisa. Jika kau butuh sesuatu, katakana saja padaku. “ Steven memulai aksinya saat merayu gadis-gadis lain.
“ Terimakasih tuan Steven. Aku sangat beruntung mengenal anda.”
“ Never mind Dear.” Steven mengecup punggung tangan gadis itu. Tampak raut wajah gadis itu merah merona. Perbincangan diantara merekapun mulai lancar, hingga akhirnya Steven pamit untuk pulang.
“ Tuan Steven, maukah anda kembali lagi kesini esok malam ? Aku tau, aku mungkin sangat lancang. Tapi, aku hanya ingin mengajak anda untuk makan malam..” Suara gadis itu menggantung.
“ Tentu saja Nona manis.” Ia tersenyum sambil melambai kearah gadis itu.
Esoknya, Sesuai jam yang sudah ditentukan. Steven kembali datang kerumah gadis itu. Ia disambut hangat oleh sang gadis. Gadis itu tampaknya menggunakan gaun terbaiknya untuk malam ini.
“ Terimakasih kau sudah datang memenuhi undanganku tuan Steven.”
“ Untukmu, aku pasti akan menyisihkan waktu walau aku sedang sibuk, Dear.”
“ Sudahlah, mari kita berbincang didalam. Aku sudah mempersiapkan semua peralatan yang kita butuhkan untuk makan malam.” Gadis itu tersenyum.
“ Rupanya kau akan menunjukkan keahlianmu memasak.” Steven tampak tertarik.
“ Tentu saja.” Gadis itu kembali tersenyum dingin. Steven dan gadis itu kemudian masuk kedalam rumah, tepatnya menuju ruang makan. Tapi, betapa terkejutnya Steven melihat apa yang terpampang dihadapannya. Gergaji, Pisau daging yang masih menempel darah yang nampaknya sudah menggumpal.
“ Marisa, untuk apa ini semua ?” Steven agak ketakutan.
“ Untuk makan malam sayangku. Bukankah, kau ingin membahagiakanku ? Aku tentu sangat bahagia jika dapat mengulitimu hidup-hidup. Hahahaha “ Wajah gadis itu berubah menyeramkan.
“ Kau… makhluk macam apa kau ini ? “ Kaki Steven seakan beku. Ia tak dapat bergerak.
“ Tentu saja, aku adalah gadis manis yang akan kau lihat untuk terakhir kalinya sayang.” Gadis itu mengikat Steven pada kursi. Ia mengambil gergaji serta pisau yang telah disediakan diatas meja. Ia kemudian memulai penderitaan itu.
“ Sayangku, kini kau tentu akan bertemu dengan kedua orangtuaku. Yah, aku yang telah mengirim mereka kesurga.” Gadis itu mendekatkan pisau daging yang masih berlumuran darah kekulit wajah Steven. Dengan santai ia mengiris-iris kulit Steven, seolah-olah binatang yang hendak dibakar. Darah mulai mengucur sedikit demi sedikit. Gadis itu kemudian menjilat sisa darah yang terdapat dipisau daging itu. Steven yang sudah lemas hanya bisa menahan mual melihat kejadian itu. Si gadis kemudian mengambil gergaji dari meja dan menyentuhkan gergaji itu pada pergelangan tangan Steven.
“ Aku mohon Marisa. Jangan lakukan itu.” Steven memohon-mohon kepada gadis itu. Ia kemudian memotongnya. Darah mengucur dari pergelangan tangan Steven. Gadis itu hanya tersenyum kecil sembari mencium pergelangan tangan Steven yang telah tak berada pada posisinya itu. Steven hanya bisa berteriak kesakitan.
“ Apakah kau merasakannya sayang ? Aku sangat bahagia. Hahaha” Steven tampak pingsan. Ketika siuman dari pingsannya. Steven tampak sangat pucat dan menahan kesakitannya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhh!!!! Tolong aku!!” Teriak Steven sekuat mungkin.
“ Sudahlah sayang, kau hanya akan menghabiskan tenagamu. Tidak aka nada yang mendengarmu berteriak. Karena kau tau ? Rumah ini sudah kulengkapi dengan peredam suara. Hahaha”
Steven hanya bisa terdiam. Ia sudah kehabisan tenaga. Tampaknya, kini ia dalam keadaan sekarat, setengah kesadarannya sudah hilang. Hingga akhirnya dunia menjadi gelap.
                                                                                oOo
Didalam sebuah video, seorang gadis tengah menatap kamera yang tampaknya tengah merekamnya. Ia terlihat mencium sebuah pisau dengan tatapan dinginnya. Namun, siapa saja pasti tau walaupun tatapan matanya dingin. Ia Nampak tersenyum bahagia sambil mengecup pisau berlumuran darah itu.
“ Hmm.. aku tentu sangat menyukai bau ini. “ Ujarnya.
“ Dan tentu, kau juga suka dengan bau ini. Karena ini sama seperti bau kekasihku yang sangat manis. “ Gadis itu tampak menunduk sebentar, kemudian melihat kembali ke kamera.
“ Kau tau ? aku sangat menyukai bau ini. Bau orang yang sangat kucinta.” Gadis itu kemudian menjilat pisau penuh darah itu dengan wajah seolah-olah sangat menikmati apa yang tengah dilakukannya.
“ Aku sungguh sangat bahagia jika ada seseorang yang rela mati demi cintanya kepadaku. Hahahaha “ Kamera kemudian mati.

Contoh CV




CURICULUM VITAE
PERSONAL INFORMATION
Lale Rizka Quratul Anjani
Jln Soropadan No. 48, Rt 02, Rw 36, CC XII
Gejayan Condong Catur Sleman, Yogyakarta
Phone : 087864846605

EDUCATION QUALIFICATION
Mercubuana University of Yogyakarta ( 2013-2017 )
·        Communication of education
SMAN 1 Jonggat ( 2010-2013 )
·        IPA
SMPN 2 Kuripan ( 2007-2010 )
SDN 2 Montong Are ( 2005-2007 )
SDN 1 Kediri ( 2001-2005 )

EXPERIENCE
·        MC ( 2013 )
PT. INSAN BANGUN BANGSA
Jln Gajah Mada-Jempong
Pertokoan Bumi Kodya Asri No. 9
Mataram, NTB.
Advertising & Even Organizer
·        Presenter ( 2012-2013 )
PT LINTAS ANTARIKSA ( TV 9 )
Jln Sandubaya No. 99x
Gerimax Indah, Narmada
Lombok, NTB.
Media/News/Publishing

SKILLS
·        MC / Presenter
·        Jurnalist

REFERENCES
·        Akhmad Herkiandi ( Ex Producer Of TV9 )


Bachelor of Broadcast GPA 3,73 with major Communication Education Mercu Buana of Yogyakarta from 2013 to 2017

Wednesday, October 23, 2013

LIVE IN HOROR



 Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Seorang gadis cantik, berwajah indo keturunan Inggris-Indonesia terlihat masih asik didepan layar komputernya. Jari-jemarinya menari indah diatas papan ketik itu. Matanya yang coklat hazel dengan rambut sepundak dan wajah yang oval, terlihat semakin cantik saat sesekali ia terlihat sedang menertawai sesuatu.
Lalu tiba-tiba gadis itu terkejut oleh suara petir yang menggelegar.  Tak lama kemudian, keadaan menjadi gelap gulita. Namun anehnya, layar komputernya tetap hidup. Menampilkan gambar wajah sosok kuntilanak yang sedang menyeringai. Sontak saja gadis itu menjerit sejadi-jadinya.Namun semakin ia menjerit, tatapan wajah itu semakin menyeringai. Lalu menertawainya.
Ia menutup mata dan berdoa semoga saja kejadian itu hanya mimpi. Hinga akhirnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Liana, ada apa ? kenapa kau berteriak ? " suara dibalik pintu terdengar cemas. Ternyata barusan hanya mimpi rupanya. Ia tertidur saat menunggu lampu menyala. Kemudian dengan langkah gontai ia menuju ambang pintu.
"Tidak ada apa-apa mom! aku hanya bermimpi." ujar gadis itu sembari mengusap-usap matanya.
"Baiklah, aku pikir telah terjadi sesuatu denganmu." nada cemas tersembul dibalik kalimat menggantung itu.
"Sudahlah mom, i've grow up you know ?" ujar Liana ketus.
"Tapi nak, kau tidak mengerti bagaimana perasaan mama sebagai seorang ibu. ahh.. sudahlah," Melihat tatapan mata anaknya yang terlihat tidak peduli. Mama Liana, Nyonya Ardinia Smith yang merupakan seorang janda akhirnya melenggang pergi begitu saja. Ia memilih untuk pergi, karena sudah mengerti betul perangai putri semata wayangnya itu.
Setelah pintu kamar ditutup, Liana lalu kembali menuju komputernya yang rupanya masih mati. Seakan penasaran dengan mimpinya tadi, diam-diam Liana melirik tajam ke layar komputer yang terlihat hitam sama sekali.  Tak ada gambar sosok wajah disitu. Hanya layar hitam tanpa gambar sedikitpun. Dalam hatinya bertanya-tanya. Siapa sebenernya sosok wajah seram itu? Ia terlihat berpikir,entah apa yang tengah berkecamuk didalam otaknya.
"ahh.. whathappened with me? ohh God please! masa iya sih itu tadi yang namanya kuntilanak? please Liana.. it's just a dream and it's not true!" ujarnya meyakinkan diri. Kemudian ia bangkit dan menuju cermin.
" Hello.. Liana Smith! see ur self. percaya deh kuntilanak itu gak ada. ngerti?" Ujarnya pada diri sendiri.
"masa iya sih hari gini masih percaya hantu norak dengan rambut kusut dan pakaian kucelnya itu? " Liana geleng-geleng kepala.
"Look, kamu itu anak William Smith. seorang lelaki Inggris yang selalu logis! kenapa harus percaya hantu? terlebih percaya hantu Indonesia yang very very kampungan dan gak stylish!" Lanjut Liana.
"atau.. jangan-jangan, aku sudah terpengaruh mom yang kena tipu nenek dengan logat jawa kuno yang selalu mencoba untuk membuat anak kecil ketakutan?! fiuh.. " Ujar Liana tanpa jeda terhadap bayangan dirinya dicermin.

Tiba-tiba suara petir yang menggelegar menghentikan kata-katanya. Lalu keadaan menjadi gelap gulita. Liana hanya terpaku diam, didepan cermin yang ada disamping ranjangnya.  Kini rasa takut benar-benar datang menghampiri gadis 15 tahun itu.
‘LIANA... LIANA’
Terdengar suara yang memanggil-manggil namanya. Suara yang parau dan lirih.
"Who is there??" Tanya gadis itu penasaran.
"Is that you, mom??" Tanya Liana sekali lagi. Berusaha untuk meyakinkan bahwa itu adalah ibunya.
‘LIANA... LIANA. KAU HARUS IKUT BERSAMAKU... ’
"Siapa disana!" Kali ini Liana mulai tampak kesal. Tapi suara itu terus-menerus memanggil namanya. Seolah-olah sedang berbisik.
Sepintas cahaya kilat menembus kamar gadis itu. Membentuk bayangan sosok wanita berambut panjang yang menutupi seluruh wajahnya.
Didepan sebuah cermin yang ada dihadapannya.
"si-si-siapa kamu?" tanya Liana terbata-bata. Wanita itu semakin mendekat menuju Liana, seolah-olah ingin mencengkeram kakinya.
Entah apa yang ada dipikiran Liana. Ia ingin berteriak tapi suaranya seolah tertahan ditenggorokan.
Ia mematung. Hingga akhirnya ketika sosok itu hampir mendekat, ia kemudian lenyap.
Entah apa yang terjadi. Seluruh ruang kamar itu kini menjadi terang kembali bersama lenyapnya sosok wanita tadi. Liana masih terlihat mematung didepan cerminnya. Wajahnya pucat pasi seakan-akan darahnya tersedot ke ubun-ubun. Hingga akhirnya Liana tersadar dan segera melompat menuju kasur empuknya, kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.
Keesokan harinya disekolah, dengan ogah-ogahan Liana menuju sekolahnya. Sebuah SMP swasta yang cukup ternama didaerahnya. Entah hanya halusinasi atau benar-benar terjadi, Liana melihat sesosok wanita seperti yang semalam dilihatnya didepan cermin. Namun, kali ini sosok itu hanya berdiri disamping gerbang sekolah, dengan rambut acak-acakan yang menutupi wajahnya.
“Oh God.. apa-apaan sih ini! “ pikirnya.
“Pasti ini kerjaan anak-anak OSIS yang kurang kerjaan itu! “ ujar Liana ketus terhadap dirinya sendiri.
Dengan langkah santai tanpa menghiraukan sosok itu, ia kemudian berjalan menuju kedalam sekolah. Di dalam sekolah, Liana melihat beberapa siswa baru yang tampak berlalu lalang. Namun anehnya semua siswa itu terlihat pucat.
“Banyak banget sih, orang yang sakit hari ini!“ Ujar Liana.
Sampai dikelasnya, Liana melihat seorang murid baru yang terlihat aneh. Murid itu hanya diam sambil menekuni buku yang tengah dibacanya.
“Rajin amat sih itu anak baru." Ujar Liana kepada Mimi, teman sebangkunya. Mimi terlihat bingung dengan ucapan teman sebangkunya itu.
“Kamu ngomong apa sih Li? Gak ada murid baru tuh dikelas ini.“ Ujar Mimi dengan nada heran.
"Oh please.. Are you blind ? see.. ada murid baru disa… “ Ucapan Liana terputus saat melihat bangku yang dimaksudnya ternyata sudah kosong. Liana terlihat bingung, kemudian terdiam.
“Liana, dimana? “ Tanya Mimi.
“em.. Forget it Mi! “ Ujar Liana. Kemudian dibalas dengan anggukan oleh Mimi.
Hingga pulang sekolah, Liana masih bingung dengan apa yang terjadi padanya. Didepan sekolah, tepat dijalan raya, ia melihat seorang lelaki muda yang sembarang saja menyebrang jalan.
“Heii.. Stop !! Awas !!“ Teriak Liana. Namun, lelaki itu tak mengindahkan perkataan Liana. Ia malah terus bergerak hingga akhirnya sebuah mobil melintas dengan kencang mendekati pria itu. Liana menutup mata untuk beberapa saat. Aneh, saat ia membuka mata tak ada kejadian apapun yang terjadi. Lalu lintas berjalan mulus, bahkan mobil yang tadi hendak menabrak lelaki itu sudah hampir tidak terlihat. Yang tersisa hanya tatapan aneh orang-orang yang melihat Liana.
“Dek, ada apa ?“ Tanya Pak Udin satpam sekolah Liana.
“Itu pak, ada.. ada.. bapak-bapak mau nyebrang jalan. Ketabrak. Hilang. Aneh.“ Ucap Liana panik. Membuat Pak Udin terlihat mengernyitkan dahi.
“Bapak gak ngerti dek. Gini aja deh, sekarang adek pulang. Bapak yakin, mama adek udah nunggu dirumah.“ Ujar pak Udin sembari sedikit mendorong tubuh Liana. Liana tidak melawan. Ia berjalan menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah.
Liana bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi padanya seharian ini. Dirumah, ia kembali menemukan keganjilan. Begitu masuk kehalaman, ia melihat seorang bapak tua yang tengah menyiram tanaman. Ia tak mengenal bapak itu.
Apa yang dilakukan orang ini dirumahku? pikir Liana. Tapi, kali ini ia tak menghiraukan sosok itu karena ia telah sangat lelah melewati beberapa kejadian aneh disekolah hari ini.
Ia kemudian menuju pintu. Masuk kedalam rumah dan segera menuju dapur setelah mengganti pakaian.
“Mom, where are you ?“ teriak Liana dari dapur sembari menenggak segelas air putih.
“Ya, honey? I’m here. Ada apa?“ Tanya Nyonya Ardinia.
“Mom, siapa sih kakek-kakek didepan? tukang kebun baru? “ Nyonya Ardinia tampak mengernyitkan dahi.
“Oldman ? dimana sayang ? “ Tanya Nyonya Ardinia kepada putrinya itu.
“Itu loh mom, yang didepan tadi waktu Liana pulang sekolah.“ Ujar Liana, berusaha mengingatkan mamanya tentang kakek-kakek barusan. Namun, mamanya menggeleng keras.
“Gak ada siapa-siapa kok sayang dari tadi.“ Ujarnya.
“Kamu kecapean kali. So, the old man is your imagine, right ? “ Lanjut Nyonya Ardinia.
“Mom, please. For this time, I know. It's not my imagination. Its true mom.“ Tampak wajah Liana meyakinkan mamanya.
“Atau jangan-jangan… “ Mama Liana membiarkan kalimatnya menggantung. Ia seolah-olah seperti menerawang.
“Jangan-jangan apa mom ?“ Tanya Liana.
“Begini sayang, lebih baik kita duduk dulu. I’ll tell you something. “ nyonya Ardinia mengajak putrinya itu menuju sofa didepan ruang tengah, yang hanya dipisahkan sebuah tembok dengan dapur. Tempat mereka mengobrol saat ini.
“Mom, ada apa? kok pake pindah tempat segala sih?“ Tanya Liana penasaran. Ia kemudian mengambil posisi, duduk disebelah mamanya yang telah duduk duluan disofa.
“Begini sayang. Keluarga kita ada garis keturunan yang mempunyai indra ke-6. Dan dulu, kakek pernah mengucapkan sesuatu kepada mama.“ Ujar Nyonya Ardinia. Liana terdiam, mendengarkan mamanya yang tengah bercerita.
“Dulu, waktu mama mengandungmu. Mama pernah bermimpi didatangi oleh seorang lelaki, ia mengaku merupakan penunggu rumah kakek di Jogja. Dan ia mengatakan, ingin berkenalan denganmu.“ Ujar Nyonya Ardinia menceritakan masa lalu.
“And then? apa hubungannya dengan perkataan kakek?" Liana tampak penasaran. Bulu kuduknya meremang hebat.
“Setelah itu, mama menelpon kakekmu di Jogja. Mama menceritakan perihal ini kepadanya. Beliau berkata, hal itu merupakan pertanda kalau suatu saat mata batinmu akan terbuka. Seperti halnya, om Miftah. Ketika nenek mengandung om Miftah. Nenek juga pernah bermimpi yang sama dengan mama. I know, Papa kamu gak akan percaya jika mama menceritakannya. Karena ia terlalu logis. Sama halnya denganmu.Maka mama memilih diam.“ Nyonya Ardinia bercerita panjang lebar.
“Jadi?“ Liana masih penasaran.
“Liana, kamu punya sesuatu yang berbeda. Kamu bisa merasakan atau bahkan melihat sosok dari alam lain. Mengerti? “ Ujar Nyonya Ardinia.
“Jadi? Semalam itu bukan hayalan? dan tadi.. saat disekolah? itu semua ?“ Liana tampak tak percaya.
“Kenapa sayang? You see something?“ Tanya Nyonya Ardinia.
“right, mom. Aku, melihat berbagai kejadian aneh hari ini. “ Ujar Liana. Ia masih tak percaya.
“Mama sendiri gak ngerti bagaimana ini semua bisa terjadi. Tapi, yang jelas, mama yakin kamu pasti bisa melalui hari-harimu.“ Ujar Nyonya Ardinia meyakinkan putrinya, yang tampaknya kini tengah terdiam.
Sebenarnya ia terdiam bukan karena kata-kata mamanya. Tapi, ia melihat sosok wanita dengan wajah hancur penuh darah disebelah tangga menuju kamarnya.


NB : Cerpen ini sudah pernah k1za terbitkan di  http://mistik.reunion.web.id/5601/live-in-horor.htm
terimakasih sudah membaca :)